Di tengah tren self improvement dan kesehatan mental, kita sering banget diingatkan untuk lebih mencintai diri sendiri. Mulai dari berani bilang “nggak”, menjaga jarak dari hal yang bikin capek, sampai memilih diri sendiri tanpa rasa bersalah. Tapi di balik itu semua, muncul satu pertanyaan yang sering bikin ragu:
ini benar self love… atau sebenarnya mulai jadi selfish?
Karena saat kita mulai berubah, nggak jarang orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda—bahkan salah.

Apa Itu Self Love dan Selfish Sebenarnya?
Self love bukan tentang selalu memprioritaskan diri sendiri tanpa peduli orang lain.
Bukan juga tentang menolak semua hal yang nggak nyaman.
Self love adalah:
- Mengenali kebutuhan diri sendiri
- Menjaga kesehatan mental dan emosional
- Tahu kapan harus bilang “cukup”
- Dan berani menetapkan batasan yang sehat
Ini bukan soal jadi lebih penting dari orang lain—tapi tentang tidak mengabaikan diri sendiri.
Lalu, Apa Itu Selfish?
Selfish atau egois adalah ketika seseorang:
- Hanya memikirkan kepentingan diri sendiri
- Mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain
- Mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampaknya
- Selalu ingin diutamakan tanpa memberi timbal balik
Kalau self love itu tentang keseimbangan, selfish cenderung berat sebelah.
Kenapa Sering Disalahpahami?
1. Karena Kita Terbiasa Mengalah
Banyak orang tumbuh dengan pola “harus selalu ngalah” atau “jangan enakan sama diri sendiri.”
Jadi ketika mulai memprioritaskan diri, langsung merasa bersalah.
2. Takut Dinilai Orang Lain
Menolak permintaan, menjaga jarak, atau bilang “nggak” sering dianggap dingin atau berubah.
Padahal belum tentu.
3. Nggak Terbiasa Pasang Batasan
Boundaries itu penting, tapi nggak semua orang diajarkan cara melakukannya. Akhirnya, saat mulai mencoba, terasa seperti sesuatu yang “salah.”
Tanda Kamu Sedang Self Love, Bukan Selfish
- Kamu bilang “nggak” tanpa niat menyakiti
- Kamu memilih istirahat tanpa merasa bersalah
- Kamu menjaga jarak dari hal yang melukai
- Kamu tetap peduli, tapi nggak mengorbankan diri sendiri
Self love tetap punya empati.
Selfish cenderung mengabaikannya.
Batas Tipis yang Perlu Disadari
Kuncinya ada di niat dan dampak.
Tanya ke diri sendiri:
- Apakah aku melakukan ini untuk menjaga diriku… atau hanya menghindari tanggung jawab?
- Apakah keputusanku masih mempertimbangkan orang lain… atau hanya tentang aku saja?
Kalau masih ada kesadaran dan empati, kemungkinan besar itu self love.

Belajar Menempatkan Diri
Nggak harus selalu jadi orang yang mengalah.
Tapi juga nggak harus selalu jadi yang diutamakan.
Ada titik tengah di mana kamu bisa:
- Menjaga diri sendiri
- Tanpa menyakiti orang lain
- Tanpa kehilangan empati
Dan itu yang disebut keseimbangan.
Self love bukan berarti kamu jadi egois.
Dan selfish bukan berarti kamu mencintai diri sendiri.
Perbedaannya memang tipis, tapi sangat terasa dari cara kamu memperlakukan diri sendiri dan orang lain.
Jadi kalau hari ini kamu mulai belajar bilang “nggak”, menjaga jarak, atau memilih diri sendiri—
ingat, itu bukan egois.
Itu adalah bentuk kamu mulai menghargai dirimu sendiri.
You must be logged in to post a comment Login