Horor & Misteri

Tangisan yang Tak Pernah Pulang dari Belakang Kampus

Tangisan lirih yang terdengar setiap magrib di belakang kampus bukan sekadar cerita. Ada jejak masa lalu dan sosok yang tak pernah benar-benar pergi.

Published

on


Tidak semua sudut kampus dipenuhi tawa mahasiswa dan hiruk-pikuk aktivitas akademik. Ada satu area yang selalu dihindari, terutama saat senja mulai turun—sebuah lahan kosong di belakang gedung lama kampus, tempat di mana suara tangisan kerap terdengar tanpa wujud.

Awalnya, tangisan itu dianggap biasa. Mungkin suara kucing, atau sekadar ilusi pendengaran akibat kelelahan setelah seharian kuliah. Namun, semakin malam menjelang, suara itu berubah. Tangisannya terdengar jelas—lirih, panjang, dan seolah meminta tolong.

Beberapa mahasiswa yang terpaksa melewati area belakang kampus mengaku mendengar suara perempuan menangis pelan, disertai langkah kaki yang mengikuti dari kejauhan. Saat mereka menoleh, tidak ada siapa-siapa. Hanya angin dingin dan pepohonan yang bergerak perlahan, seolah menyembunyikan sesuatu.

Konon, area tersebut dulunya adalah lokasi asrama lama yang terbengkalai dan diratakan. Ada cerita lama tentang seorang mahasiswi yang menghilang tanpa jejak setelah terakhir kali terlihat berjalan sendirian di belakang kampus pada malam hari. Tidak ada saksi, tidak ada laporan resmi—hanya bisik-bisik yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Yang membuat cerita ini semakin menyeramkan, tangisan itu hanya terdengar pada waktu tertentu. Tepat setelah azan magrib, ketika langit mulai gelap namun aktivitas kampus belum sepenuhnya berhenti. Beberapa satpam mengaku melihat sosok berdiri membelakangi gedung lama, rambutnya panjang menutupi wajah, tubuhnya diam namun bahunya bergetar seakan sedang terisak.

Tidak ada yang berani mendekat.

Esok harinya, area tersebut kembali normal. Mahasiswa lalu-lalang seperti biasa, tertawa, berbincang, tanpa menyadari bahwa malam sebelumnya tempat itu kembali “hidup”.

Hingga kini, tangisan di belakang kampus tetap menjadi misteri. Tidak tercatat dalam sejarah resmi, tidak diakui secara akademis, namun terus diceritakan dengan nada berbisik. Sebuah pengingat bahwa tidak semua yang ada di kampus tercatat dalam buku—sebagian tersimpan dalam gelap, menunggu untuk didengar oleh mereka yang pulang terlalu malam.

Dan jika suatu hari kamu mendengar tangisan pelan saat melintas di belakang kampus, jangan menoleh terlalu lama. Bisa jadi, suara itu sedang memastikan… kamu tidak sendirian.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Cancel reply

Trending

Exit mobile version