Horor & Misteri

Main Seharian, Pulang Bawa “Penumpang” dari Dunia Lain

Menurut pengamat folklor dan kepercayaan tradisional, waktu magrib dipercaya sebagai masa peralihan energi, sehingga banyak kisah mistis terjadi pada jam-jam senja ketika manusia lengah dan kelelahan.

Published

on

Seharian penuh, seorang anak lelaki menghabiskan waktunya bermain bersama teman-temannya. Sejak matahari masih tinggi, tawa mereka pecah di lapangan tanah, menyusuri kebun, hingga berlarian di tepi jalan kecil yang jarang dilewati kendaraan. Dunia terasa ringan bagi mereka—tak ada beban, tak ada firasat buruk. Hanya sore yang perlahan meredup, menguning, lalu berubah jingga.

Tanpa sadar, waktu bergulir terlalu jauh. Azan magrib mulai terdengar samar dari kejauhan, terbawa angin senja yang tiba-tiba terasa lebih dingin. Satu per satu teman-temannya berpamitan. Jalanan mulai sepi. Burung-burung kembali ke sarang, dan bayangan pepohonan memanjang di tanah, tampak seperti lengan-lengan hitam yang merayap.

Langkahnya pelan menyusuri jalan sempit menuju rumah. Di kanan-kirinya, kebun liar dipenuhi semak tinggi. Lampu jalan hanya ada di beberapa titik, selebihnya gelap dan remang. Suara jangkrik dan gesekan daun kering terdengar jelas, seolah mengiringi setiap langkahnya. Perasaannya mulai tak nyaman, namun ia menepisnya, mengira hanya karena hari sudah gelap.

Di tengah jalan, ia merasa ada yang memanggil.

Suaranya lirih, hampir seperti bisikan, datang dari arah belakang.

“Nunggu…”

Ia menoleh sekilas. Tak ada siapa-siapa. Jalanan kosong. Ia menarik napas dan melanjutkan langkah. Namun beberapa meter kemudian, bahunya terasa berat, seolah ada tangan dingin yang bergelayut. Beban itu makin terasa jelas, seakan seseorang tiba-tiba naik ke punggungnya.

Turun! aku capek…”

Anak lelaki itu terkejut, namun pikirannya masih logis. Ia mengira salah satu temannya mungkin mengikuti dari belakang untuk menakut-nakuti. Tanpa menoleh, ia sedikit membungkuk, membiarkan “sosok” itu naik di punggungnya. Aneh, tubuh itu terasa sangat ringan. Terlalu ringan untuk ukuran manusia.

Ia terus berjalan. Jalan menuju rumah semakin gelap. Angin malam berembus membawa bau anyir yang samar, seperti tanah basah bercampur sesuatu yang tak sedap. Tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun ia masih memaksa dirinya untuk tetap melangkah.

Sesekali ia mendengar helaan napas tepat di dekat telinganya. Dingin. Terlalu dingin.

Bulu kuduknya meremang. Keringat dingin mengalir di pelipis.

Saat melewati tikungan kecil, pantulan bayangan terlihat samar di genangan air di pinggir jalan. Dalam pantulan itu, ia melihat siluet dirinya… dan satu sosok lain di punggungnya. Rambut panjang terurai menjuntai, menutupi sebagian wajah pucat. Kakinya menggantung, tak menyentuh tanah.

Langkahnya terhenti.

Napasnya tercekat. Tubuhnya gemetar hebat. Ia ingin berteriak, namun suaranya seakan terkunci di tenggorokan. Perlahan, dengan sisa keberanian yang ada, ia memberanikan diri menoleh sedikit ke belakang.

Wajah pucat itu sangat dekat. Matanya hitam legam, kosong tanpa kehidupan. Bibirnya tersenyum tipis, senyum yang tak membawa kehangatan sedikit pun. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah, namun bau anyir dari tubuhnya menusuk hidung.

Rumahku… sudah dekat,” bisik sosok itu.

Saat itu, kaki anak lelaki itu terasa lemas. Dunia seakan berputar. Ia memejamkan mata sambil terus melangkah tertatih, berdoa dalam hati agar semua ini hanya mimpi. Azan magrib terdengar lebih jelas, menggema di kejauhan, seolah menjadi satu-satunya pegangan di tengah ketakutan yang menelannya.

Tiba-tiba, beban di punggungnya menghilang.

Ia terjatuh berlutut di tanah. Saat ia menoleh, jalanan kembali kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin malam yang berdesir, dan genangan air yang kini tak lagi memantulkan sosok apa pun selain bayangannya sendiri.

Ia berlari pulang dengan sisa tenaga. Sejak malam itu, anak lelaki tersebut sering terbangun di tengah malam, menangis tanpa sebab. Tubuhnya kerap lemas, matanya kosong menatap satu titik, seolah masih melihat sosok yang pernah ia bopong di jalan sepi saat magrib.

Orang-orang tua percaya, senja adalah waktu peralihan. Waktu ketika batas antara dunia manusia dan dunia lain menjadi tipis. Siapa pun yang pulang terlalu larut tanpa menjaga diri, bisa saja membawa pulang sesuatu… bukan di tangan, melainkan di punggungnya.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Cancel reply

Trending

Exit mobile version