Malam itu langit terasa lebih gelap dari biasanya. Gema takbir menggema dari kejauhan, bersahut-sahutan, memantul di antara pepohonan dan bangunan tua yang berdiri sunyi. Seharusnya malam itu dipenuhi rasa syukur dan kemenangan. Tapi tidak bagi mereka yang pernah mengalami kejadian itu.
Semua bermula dari sebuah tradisi lama: mengelilingi kampung sambil membawa obor, menabuh bedug, dan melantunkan takbir hingga larut malam. Warga berkumpul, anak-anak berlarian, dan para pemuda menjadi penggerak utama arak-arakan. Suasana hangat, ramai, dan penuh tawa.
Namun, ada satu aturan yang selalu diingatkan oleh orang-orang tua—aturan yang mulai dilupakan generasi muda: jangan melewati batas jalan tertentu saat malam takbir berlangsung.
Konon, batas itu bukan sekadar jalan biasa.
Sekelompok pemuda, yang merasa penasaran dan menganggap cerita itu hanya mitos, sepakat untuk melanggar larangan tersebut. Mereka ingin membuktikan bahwa tidak ada apa-apa di balik cerita yang selama ini menakut-nakuti warga.
Dengan obor di tangan dan suara takbir yang masih menggema, mereka berbelok ke arah jalan yang dimaksud.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Namun semakin jauh mereka berjalan, suara takbir dari rombongan utama mulai terdengar menjauh… lalu hilang sama sekali.
Sunyi.
Angin berhenti.
Api obor yang mereka bawa tiba-tiba meredup, seolah kehabisan udara.
Salah satu dari mereka mulai merasa ada yang mengikuti. Bukan langkah kaki manusia—lebih seperti gesekan halus di tanah, seperti sesuatu diseret perlahan. Mereka menoleh, tapi tidak melihat apa-apa.
Lalu terdengar suara takbir… dari arah depan.
Pelan.
Serak.
Tidak beraturan.
Mereka saling pandang. Tidak mungkin ada rombongan lain di jalur itu. Jalan itu seharusnya kosong.
Ketika mereka terus melangkah, samar-samar terlihat sosok-sosok di kejauhan. Sekilas tampak seperti orang-orang ikut bertakbir. Tapi langkah mereka tidak menyentuh tanah. Tubuh mereka sedikit melayang, bergerak tidak selaras dengan suara yang keluar dari mulut mereka.
Salah satu pemuda menjatuhkan obornya.
Saat api menyentuh tanah, cahaya itu justru memperjelas apa yang berdiri di depan mereka.
Wajah-wajah pucat.
Mata kosong.
Mulut terbuka terlalu lebar, melantunkan takbir dengan suara yang bukan milik manusia.
Dalam sekejap, suasana berubah mencekam. Udara menjadi dingin menusuk. Suara takbir dari makhluk-makhluk itu berubah menjadi jeritan panjang yang memekakkan telinga.
Mereka berlari.
Tanpa arah.
Tanpa berani menoleh.
Namun, jalan yang mereka tempuh terasa berputar-putar. Setiap kali merasa sudah mendekati jalan keluar, mereka kembali ke tempat yang sama—dengan sosok-sosok itu kini semakin dekat.
Satu per satu dari mereka mulai menghilang.
Bukan tertinggal.
Bukan tersesat.
Melainkan… ditarik.
Satu pemuda yang tersisa akhirnya berhasil keluar saat fajar mulai menyingsing. Ia ditemukan di pinggir jalan, dengan kondisi linglung dan tubuh penuh luka seperti bekas cakaran.
Namun sejak saat itu, ia tidak pernah benar-benar pulih.
Ia sering terdengar berbisik sendiri, melantunkan takbir dengan nada yang aneh—persis seperti yang ia dengar malam itu.
Dan setiap malam takbir tiba…
Beberapa warga mengaku masih mendengar suara tambahan di antara gema takbir yang meriah.
Suara yang tidak dikenal.
Suara yang datang dari arah jalan terlarang itu.
Sejak kejadian itu, tidak ada lagi yang berani melanggar aturan lama.
Karena mereka tahu—malam takbir bukan hanya milik yang hidup.
You must be logged in to post a comment Login